Cerpen Masa Kecil

 

Lintah Didalam Celana

Oleh : Riyadi Ipong

 

Selalu  melakukan hal ini, memandang keluar dikala hujan perlahan turun dan membesar, dari sudut jendela kamar. Memori yang selalu tersimpan erat akan kembali dalam ingatan.

Aku bukanlah anak yang terlalu beruntung dalam hal ekonomi, selalu berpindah kesana kemari mengikuti ketempat dimana orang tua mendampat pekerjaan, terutama Bapakku, sebagai pekerja yang mengandalkan tenaga, cocok dengan tubuhnya yang gemuk besar, sosok yang selalu kucinta walau tak pernah kusampaikan padanya setidaknya sampai saat ini, tapi aku berencana akan menyampaikanya suatu saat nanti.

Aku dan adik laki – lakiku, Otong, begitu dia dipanggil pada saat kami masih kecil dan tidak akan menoleh lagi apabila dipanggil dengan nama itu saat ini, tidak, tepatnya sejak dia mulai naksir teman perempuannya, saat SMP aku rasa, dia lebih suka dipanggil dengan nama aslinya, karena kami sering diajak pindah – pindah tempat tinggal, sehingga mempunyai banyak cerita, ya kami kaya cerita.

Suatu pagi di tanggal merah, hari libur, gerimis kecil membuat suasana serasa dingin. Anak – anak sekarang pasti akan mengisinya dengan main hp atau paling tidak nonton tv, tidak dengan kami, waktu itu jangankan hp, tv saja hanya satu dua orang yang punya lagipula listrik belum masuk desa kami. “Bagiamana kalau kita mincing saja?” kata Bapak kepada kami, tentu saja kami senang, itu salah satu hobby kami. “Cepat cari caing sana”, lanjut Bapak yang segera kami jawab dengan tindakan bukan kata – kata. Aku ambil cangkul dan adikku, Si Otong, mengambil bekas wadah sambun colek merk Wings, sabun colek yang pasti anak Sembilan puluhan kenal akrab, yang akan dipakai untuk tempat cacing sebagai umpan memancing nantinya.

“Kalian pakai celana panjang ya” kata Bapak, “Karena hujan, dingin dan dijalan nanti banyak duri dan rumput tanjam” tambah beliau. Kami menuruti, memakai celana levis, kami menyebutnya begitu untuk semua jenis celana jeans merek apapun, entah itu asli atau tiruan kami menyebutnya levis, tentu celana levis yang sudah belel yang memang diperuntukan untuk keluar masuk hutan. Ya kami “anak hutan” saat itu, jarak rumah kami kehutan hanya satu jam perjalanan kaki, tempat kami banyak menghabiskan waktu sepulang sekolah, seperti Si Bolang, betul saya selalu bernostalgia apabila menonton acara tersebut, mirip kehidupan masa kecil kami, walaupun tentu saja kami lebih ekstrim dari mereka.

Kami menyelusuri jalan kecil ditepian desa, rerumputan dan daun – daun masih basah air hujan, ujung daun daun menitikan butir butir bola air kecil menetes ke tanah, udara terasa segar walaupun dingin. Lebih dari tiga puluh menit sudah perjalanan kami lalui, dari kejauhan nampak hutan lebat dan sedikit pohon karet berjejer, “Sebentar lagi sampai’ fikir kami. Sebuah rumah gubuk tua, dengan rumpun bambu kuning ada didepannya terlihat tidak terpelihara, sudah lama tidak didatangi pemiliknya, satu – satunya gubuk dan kebun karet yang ada dipinggiran hutan ini. Akhirnya kami sampai di tepi Sungai Saraan, begitu orang – orang desa menyebut sungai beraliran cukup deras, dengan lebar kurang lebih sepuluh sampai 15 meter, melintasi hutan yang berada di tepian hutan, rumah bagi banyak sekali jenis ikan air tawar, surga bagi para pemancing, saat itu memancing bukan sekedar hobi tapi memang betul – betul salah satu cara untuk mencari lauk makan. Dan bagi kami anak – anak sekolah dasar memnacing adalah gabungan dari hobi, mencari lauk makan, menghabiskan waktu bersama teman – teman, dan sebagai bentuk olah raga walaupun tidak kami sadari saat itu.

Air tampak keruh dan mengalir deras, hal biasa sehabis hujan, dan biasanya ikan – ikan akan sangat “lapar” dan cepat mematuk umpan kami. Kami segera mencari posisi memancing masing – masing, ada kesepakatan dan peraturan tertulis yang dipahami secara alami bahwa posisi memancig tidak boleh terlalu dekat satu sama lain. Seperti biasa, aku selalu mencari di tikungan sungai dengan air berbuih dan agak dalam, biasanya ikan baung akan berada disitu. Si Otong mengambil posisi di seberang sungai duduk diatas batang kayu melintang yang roboh karena angin, sedangkan Bapak duduk dipinggir sungai, terhalang pohon dan hanya ujung jorannya yang terlihat sudah melempar pancing ketengah sungai. “Dapat keting!” teriak adikku, sepertinya dia yang pertama dapat ikan kali ini, disusul Bapak menarik ikan, dan akhirnya akupun dapat ikan. Makin lama kami makin sepi, sibuk dengan lempar tarik senar pancing, ganti umpan, masukan ikan yang kami dapat ketempatnya masing – masing dan menepuk nyamuk yang sangat banyak yang hinggap dan menyedot darah kami diam- diam. Tampak adikku pindah posisi kearah hilir, jalan pinggiran sungai becek sehabis hujan, genangan air dimana, katanya kondisi seperti ini membuat lintah pengisap darah keluar, mencari mangsa, mungkin hewan – hewan besar seperti babi hutan, kijang, rusa yang akan mereka tempeli. Tapi semua itu tidak dapat mengalihkan kegembiraan kami karena banyaknya ikan yang kami tangkap. Sesekali kami mengeluarkan suara sedikit berteriak untuk memberi tahu posisi karena kami berpencar dan lebatnya hutan membuat kami tak terlihat.

Tak terasa dua jam lebih telah berlalu, dirasa sudah cukup banyak ikan yang kami tangkap, cukup untuk lauk tiga kali makan kami berlima sekeluraga, ya Bapak dan Emak kami mempunyai tiga orang anak, dua laki - laki dan Si Bungsu yang perempuan sendiri.

Kami putuskan untuk pulang, menysuri sungai kearah hulu, melewati jalan setapak yang becek dan licin. Sepanjang perjalanan aku membayangkan betapa enaknya nanti Emak memasak ikan hasil tangkapan kami, biasanya sebagian dimasak kuning, sebagian dimasak pakai kecap dan sebagian lagi digoreng, disesuaikan dengan jenis ikannya, sangat lezat, ditambah sambal dan lalap daun singkong. Ya ampun sampai menetes air liurku membayangkannya.

Akhirnya kami sampai juga dirumah, saat itu walapaun sangat sederhana, rumah panggung dengan bahan kayu dan beratapkan seng, dengan dua kamar dan wc terpisah jauh dibelakang tapi merupakan tempat tinggal yang nyaman bagi kami, dengan semua kenangan manis pahitnya kehidupan kala itu. Ikan – ikan telah kami kumpulkan dan diserahkan ke Emak. “Cepat mandi sana” kata Emak, kami segera menuju sumur sebelah rumah, sebuah sumur yang menggunakan ember yang dikerek. “Tolong – tolong” tiba- tiba terdengar teriakan, lebih tempatnya seperti jeritan ketakutan, adikku, Si Otong berteriak sambil menunjuk kearah pahanya kanan – kiri setelah dia buka celana levisnya. Kami berkumpul mengerumi dia, ternyata beberapa lintah gemuk karena kenyang darah menempel dipahanya, dia menangis ketakutan, kami tertawa terbahak – bahak. Kami merasa kasian sekaligus merasa lucu. Kenangan sederhana yang selalu kami ingat, kadang kami ceritakan kembali pada saat ada kesempatan untuk dapat berkumpul bersama.

Tiba – tiba aku terdiam setelah tertawa, sambil meraba celana levisku… Jangan – jangan….. Oh tidak !!!

 

                                                                   *Karya pertamaku kuhadiahkan untuk  anakku Samuel Ipong.

Comments

Post a Comment